Rani, adalah seekor kijang yang malang. Kehidupan malang itu terjadi
sejak sebuah kejadian yang mengecewakan. Kemalangannya menyebabkan dia
menjadi istri yang sulit melihat kebaikan suaminya. Rani tidak lagi
bisa berterima kasih, yang tampak hanya buruk dan buruk. Akibatnya
setiap mengingat suaminya kijang cantik ini sangat kecewa, wajahnya jadi
suram, tutur katanya buruk, dan sedikit rasa syukur.
Showing posts with label 04. Kisah-kisah Motivasi. Show all posts
Showing posts with label 04. Kisah-kisah Motivasi. Show all posts
Monday, 5 August 2013
Tuesday, 13 March 2012
Masih Ada Bis Lain
Masih Ada Bis Lain
Suatu malam di halte depan RSUD Dr. Moewardi Surakarta yang dingin dan hujan, saya sedang menunggu bus. Saya melihat seorang ibu setengah baya turun dari sebuah bus dan kemudian berjalan perlahan ke halte tempat saya menunggu bus. Setelah berdiam beberapa saat ibu itu berbicara kepada saya. "Malam ini dingin sekali ya? Saya harap saya tidak perlu menunggu terlalu lama."
Dengan sedikit ingin tahu, saya bertanya tentang tujuan ibu itu dan bus mana yang ia tunggu.
“Saya mau pulang ke Boyolali,” kata si ibu.
Saya keheranan dan berkata, "Lho, bis yang ibu naiki tadi kan membawa ibu ke Boyolali?”
“Begini...” katanya terbata-bata dengan sedikit malu, "Di bus tadi ada seorang pemuda cacat. Tak seorang pun menawarkan tempat duduk kepadanya, dan saya tahu bahwa dia akan merasa malu kalau seorang wanita tua seperti saya berdiri untuknya. Karena itu saya berpura-pura sudah waktunya untuk turun dan saya menghentikan bus ketika ia sedang berada di sisi kursi saya. Dia tidak merasa malu, dan bagi saya – masih selalu ada bis lain."
Subhanallah....sungguh indah akhlak si ibu setengah baya ini. Demi kenyamanan orang lain, ia bersedia untuk meninggalkan bangkunya dan memberikannya kepada orang lain. Aku jadi merasa rendah sekali di hadapannya, astaghfirullah.
Di kirimkan oleh Aji Via BBM dari noname
Wednesday, 11 March 2009
Gaji Papa Berapa ?
Kiriman dari seorang teman : Indah Wahyuni" <830108@telkom.co.id>
Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.
"Kok, belum tidur ?" sapa Andrew sambil mencium anaknya.
Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Sarah, putri pertamanya yang baru duduk di kelas tiga SD membukakan pintu untuknya.
Nampaknya ia sudah menunggu cukup lama.
"Kok, belum tidur ?" sapa Andrew sambil mencium anaknya.
Thursday, 12 June 2008
Kisah 2 anak Super di Jembatan Penyebrangan
Sumber: Dari noordin@telkom.co.id dari yosua@telkom.co.id
Tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki kita mengarungi untuk coba taklukkan ibukota negeri ini. Semoga kita selalu diingatkan. Sekedar berbagi cerita dalam keindahan hari ini :
Tanpa disadari terkadang sikap apatis menyertai saat langkah kaki kita mengarungi untuk coba taklukkan ibukota negeri ini. Semoga kita selalu diingatkan. Sekedar berbagi cerita dalam keindahan hari ini :
Sunday, 17 February 2008
KEKUATAN CITA-CITA: PAK PARMO DAN HAJI RAMLI
Sebuah kisah yang sangat inspiratif tentang cita-cita
Di sebuah sudut kota, di rumah kontrakan kecil, tinggallah sebuah keluarga sederhana. Pak Parmo berusia 30 tahun hidup bersama seorang istri dan satu anak. Dengan profesi sebagai tukang bakso Pak Parmo bekerja keras dan gigih untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit rizki yang diberikan Allah. Setiap hari ia mendorong gerobag baksonya tanpa mengeluh. Dengan penghasilan pas-pasan ia disiplin dalam mengelola uangnya. Sebagian untuk menafkahi istri, biaya anak sekolah dan lain-lain, dan sebagian lagi ditabung, dan sesekali masih bisa menyempatkan infak di Masjid. Dia memang seorang yang berhati-hati dalam mengelola uang.
Di sebuah sudut kota, di rumah kontrakan kecil, tinggallah sebuah keluarga sederhana. Pak Parmo berusia 30 tahun hidup bersama seorang istri dan satu anak. Dengan profesi sebagai tukang bakso Pak Parmo bekerja keras dan gigih untuk mengumpulkan sedikit demi sedikit rizki yang diberikan Allah. Setiap hari ia mendorong gerobag baksonya tanpa mengeluh. Dengan penghasilan pas-pasan ia disiplin dalam mengelola uangnya. Sebagian untuk menafkahi istri, biaya anak sekolah dan lain-lain, dan sebagian lagi ditabung, dan sesekali masih bisa menyempatkan infak di Masjid. Dia memang seorang yang berhati-hati dalam mengelola uang.
Subscribe to:
Posts (Atom)
